Politisi PDIP Aria Bima Sebut Megawati Tidak Bisa Didikte Tentang Pertemuan Megawati Prabowo

SOLO, solopopuler.com – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tidak bisa didikte atau didesak keadaan. Hal ini terkait rencana pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Sedangkan ini disampaikan Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Aria Bima yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI.

” Dalam konteks berbangsa dan bernegara Ibu Mega punya banyak pengalaman dinamika politik maka ibu tidak bisa kemudian didikte atau didesak keadaan, ” terangnya, Senin (09/04/2024).

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI,Aria Bima. (Foto : Agung Santoso)

Artinya, sebagai ketua umum memiliki pengalaman dalam dinamika politik. Berikut dalam hal berbangsa dan bernegara. Selanjutnya, ia juga mengatakan Megawati mempunyai perhitungan cermat terkait rencana pertemuan tersebut.

” Yang saya tahu dari ibu Mega, ibu mempunyai perhitungan cermat termasuk perlu tidaknya bertemu pak Prabowo,” jelas

Jika bertemu maka tidak bisa dikerangkakan dan diopinikan oleh publik. Seperti halnya pertemuan setelah hasil putusan Mahkamah Konstitusi. Baginya, Megawati ini bukan tipe yang bisa ditentukan tapi menentukan.

” Itulah karakter kepemimpinan yang ditunjukkan sampai hari ini,” jelasnya.

BACA JUGA: 📱Peluang PDI P Berkoalisi Pasca Pertemuan Megawati Prabowo, Gibran Berharap Semoga Hasilnya Terbaik

Dirinya melihat, pertemuan antara Megawati dengan Prabowo karena keduanya sama-sama ketua umum partai politik. Partai yang dalam Pilpres lalu, sama-sama ikut dalam kontestasi politik. Lain halnya Ketua DPP PDIP, Puan Maharani yang sudah mengatakan pasti ada pertemuan maka, ia mengatakan perlu didesak dan dikerangkakan. Apalagi dikaitkan dengan bagi bagi kekuasaan atau PDIP ingin masuk ke pemerintahan ke depan.

” Ibu Mega tahu persis bagaimana kondisi kebatinan PDIP yang mengusung Ganjar Mahfud, ” terangnya.

Lantas skenarIo kepemipinan kedepan, lanjutnya, 10 tahun terakhir Mega berada diluar pemerintahan. Menurutnya, negara butuh partai di luar pemerintahan yang kritis dan eksis. (Agung Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *